RESENSI BUKU : DIMSUM TERAKHIR
Ditulis oleh readinc di/pada Juli 5, 2008
Judul : Dimsum Terakhir
Penulis : Clara Ng
Penerbit :
Cetakan :
Cina !
Jika mendengar kata itu, ada banyak persepsi yang terlintas di benak tiap orang. Tak jarang persepsi itu menjurus ke arah negative. Penyebabnya tentu adalah kenyataan yang membuktikan bangsa ini adalah salah satu bangsa dengan survivalitas yang begitu tinggi. Hampir di Negara mana saja pasti ada suku bangsa yang satu ini. Kawasan Pecinan atau Chinatown menjadi bagian dari napas kehidupan di berbagai kota di seluruh dunia. Mereka punya sifat istimewa yang sudah dikenal umum, yakni ulet, pekerja keras dan menjunjung tinggi ikatan kekerabatan. Tak jarang, sifat-sifat tersebut mengantarkan mereka berhasil secara ekonomi. Keberhasilan tersebutlah yang membuat orang berpikir negative pada mereka karena mereka merasa dikalahkan oleh bangsa Cina. Timbullah kemudian berbagai perlakuan yang boleh dikatakan berbau rasisme. Tak terkecuali Indonesia yang dulunya sempat agak paranoid dengan kaum keturunan Cina. Puncaknya terjadi saat kerusuhan Mei 1998. Kini, pembedaan itu mulai dikikis oleh pemerintah pasca reformasi. Hal itu mendorong beberapa orang menggugat perlakuan terhadap keturunan Tionghoa di Indonesia, salah satunya melalui media buku. Ada yang secara menohok dalam bertutur. Tapi ada juga yang secara implicit mengeluarkan sindirannya. Buku Dimsum Terakhir karya Clara Ng termasuk yang terkesan secara sambil lalu saja mengeluarkan sentilan tajam mengenai nasib kaum keturunan. Tapi inti cerita dalam buku tersebut, saya yakin, tak dimaksudkan untuk menggugat pahitnya rasisme. Seperti endorser yang dicantumkan dalam buku ini, episentrum ceritanya justru terletak pada nilai kehidupan dan kekeluargaan. Rasisme hanyalah bumbu penyedap dalam kisah ini.
Buku ini mengisahkan tentang 4 orang bersaudara, atau lebih tepatnya 4 saudara kembar. Kepercayaan umum di masyarakat bahwa saudara kembar cenderung memiliki banyak kesamaan dan ikatan batin yang lebih kuat daripada mereka yang tidak kembar. Tapi itu tak begitu berlaku untuk 4 putri kembar Nung Atasana dan Anas, pasangan keluarga yang kebetulan adalah keturunan tionghoa. Keempat saudara kembar tersebut masing-masing bernama Tan Mei Xia atau Siska, Tan Mei Yi atau Indah, Tan Mei Xi atau Rosi dan Tan Mei Mei atau Novera. Uniknya nama Indonesia keempat orang tersebut diberikan oleh pembantu mereka, Mbok Hetih. Semenjak kecil, masing-masing putri Nung tersebut sudah menunjukkan karakter yang unik dan saling bertolak belakang. Siska yang perfeksionis, rasional dan mandiri. Indah yang kaku tapi sentimental. Rosi yang ceria dan ‘kelaki-lakian’. Novera yang plegmatis tapi keras kepala. Perbedaan mencolok tersebut terbawa hingga dewasa dan membawa mereka hidup terpisah-pisah. Siska mengurus perusahaannya di Singapura. Indah yang wartawan sekaligus penulis buku di Bekasi. Rosi yang memilih tinggal di Puncak mengurus usaha bunga dan terakhir Novera yang merasa puas menjalani profesi sebagai guru Tk di Yogyakarta. Masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri-sendiri. Kondisi itu mungkin akan tetap seperti itu jika tak terjadi hal yang secara tiba-tiba membelokkan jalan hidup mereka sejenak. Adalah sakitnya Nung, sang Papa, yang membuat keempat saudara tersebut terpaksa kembali ke rumah orangtuanya untuk menemani hari-hari terakhir sang Papa yang sudah divonis tak akan bertahan hidup lama. Kebersamaan kembali itulah awal mula dari kisah ini. Friksi, pertengkaran, masalah dan berbagai kejadian pun mewarnai keseharian mereka akibat perbedaan karakter. Tak hanya itu, sesekali adegan lucu pun terjadi, seperti saat Rosi yang dengan bangga dan cueknya bertengkar dengan sopir angkot hingga berurusan dengan polisi atau ketika Indah yang nekat pergi ke toko obat Cina tanpa mengetahui obat apa yang dia cari. Rekaman peristiwa keseharian itulah yang diungkap dalam alur cerita ini. Secara perlahan-lahan pula, kepingan-kepingan kenangan dan masa lalu keluarga itu diungkap. Dari situ mulai terlihat bahwa masing-masing dari keempat kembar tersebut ternyata membawa beban dan rahasia yang selama ini terpendam. Mulai dari Siska yang hidupnya tak sesempurna yang terlihat, Indah yang diam-diam menjalin hubungan cinta dengan seorang pastur hingga hamil, Rosi yang merasa terpenjara dalam tubuh perempuan dan memiliki hubungan dengan sesama perempuan, serta Novera yang mengalami krisi kepercayaan diri berat lantaran rahimnya yang diangkat akibat kanker rahim yang menyerangnya. Tapi di luar itu semua, ternyata mereka punya ikatan kuat sebagai keluarga. Apalagi latar belakang mereka yang keturunan Tionghoa membuat mereka harus bersatu menghadapi perlakuan tak sedap dari orang lain. Di atas itu, keluarga mereka memiliki sebuah tradisi unik yang menjadi nilai dan tali perekat sebagai sebuah keluarga. Tradisi itu adalah membuat dan memakan dimsum bersama-sama di hari tahun baru cina. Meski sempat terlupakan, rupanya tradisi itu pulalah yang akhirnya membuat mereka semua sadar akan nilai sebuah keluarga. Terlebih, mereka kemudian harus merasakan pertama kalinya menikmati dimsum itu di rumah sakit beberapa saat setelah kehilangan orang yang sangat mereka cintai.
By : Farisol-ReadincCrew
Note : Tulisan ini juga ada di Blog pribadi : Farisol.wordpress.com