Rumah maya Readinc

Just another WordPress.com weblog

RESENSI BUKU : TURQUOISE

Ditulis oleh readinc di/pada Juli 6, 2008

Judul : Turquoise
Penulis : Titon Rahmawan

Penerbit : Penerbit Escaeva

Cetakan : I, November 2007
Tebal : xiii+412
hl ; 13,5 x 20,5 cm 

Kata orang, kalau mau menulis novel, mulailah dari hal yang paling kita ketahui. Karena itu, wajarlah jika sebagian besar karya sastra Indonesia berlatar belakang negeri kita sendiri. Belakangan memang muncul karya-karya dengan latar belakang negeri orang, seperti yang banyak terjadi pada genre Chicklit/Teenlit. Tapi settingnya hampir selalu ada di negeri orang bule. Selain itu, Novel-novel islami banyak mengambil setting negeri arab. Contohnya semacam “Ayat-Ayat Cinta” yang fenomenal itu. Hal itu mungkin dilatarbelakangi oleh sejarah genre itu sendiri. Karena itu, saya agak kecele saat melihat sebuah buku dengan judul dan grafis yang bernuansa arab. Sangka saya, buku ini tentu karya sastrawan arab yang belakangan banyak membanjiri dunia buku tanah air. Meski tertulis nama pengarangnya di sampul buku, saya malah mengira itu bisa saja penerjemahnya. Isinya saya perkirakan sarat dengan nilai dakwah islam. Ternyata saya salah. Novel ini berbeda.

Ada 3 kesalahan sangka saya pada buku ini. Pertama buku ini adalah asli buatan anak negeri sendiri. Kedua, meski kental bernuansa agamis, tapi buku ini tak menyajikan secara eksklusif nuansa dakwah islamiyah. Lebih banyak yang tergambar adalah warna sufistik yang ringan tapi dalam. Ketiga, ternyata buku ini adalah bagian dari sebuah trilogy. Wahhh….. ini pasti seru !

Benar saja, buku ini memang worth it ! Dengan mengusung gaya epic saja, buku ini sudah berada di jalur buku langka karya anak negeri ini. Kebetulan, saya sedang gandrung pada buku bergenre seperti ini.

Inti cerita novel ini adalah seputar kisah heroic seorang pemuda suku Rabihi bernama Husayn Bashemi. Settingnya berada di sebuah kota bernama Makarresh. Kisah dalam buku ini diwarnai dengan bahasa yang halus, puitis dan bernafas sufistik. Ceritanya juga dibalut dengan romantisme dan nilai-nilai persahabatan.

Bak sebuah cerita 1001 malam, kisah dibuka dengan seorang pendongeng yang menceritakan sebuah dongeng tragis. Kisah itu berkenaan dengan nasib seorang pemuda anak pelayan bernama Husayn Bashemi yang berasal dari suku Rabihi. Semenjak kecil, Husayn bersahabat dengan 3 orang yakni, Hasyim, seorang anak pelayan lain, Qadrii, anak kepala kampung dan Safira, putri satu-satunya dan permata di keluarga kaya majikan Husayn. Persahabatan diantara keempat orang itu ditandai dengan 4 keping pecahan sebuah batu Turquoise atau batu pirus sebagai lambang persahabatan.

Orang jawa bilang, ‘Tresno jalaran soko kulino‘. Itu pulalah yang terjadi pada persahabatan 4 orang tersebut. Seiring bergulirnya waktu, muncullah benih rasa cinta di hati Husayn, Hasyim dan Qadrii kepada Safira. Menyadari persaingan diantara para sahabatnya, Safira merasa sedih dan serba salah. Namun dia tak bisa membohongi dirinya yang telah memilih Husayn sebagai pilihan hati. Mengetahui itu, Husayn pun senang bukan kepalang. Sayangnya mereka dipisahkan oleh status mereka sebagai majikan & pelayan,dan juga perbedaan keyakinan/agama. Dalam waktu bersamaan, pinangan Qadrii diterima oleh orang tua Safira. Mengetahui kenyataan itu, Safira akhirnya membuka rahasia hatinya pada kedua orang tuanya. Tentu saja orang tua Safira tak bisa menerima kenyataan bahwa anaknya mencintai seorang pelayan. Imbasnya, Husayn dan orang tuanya diusir dari rumah Youssef. Hati Safira dan Husayn pun remuk redam karenanya. Sebelum berpisah, Safira memaksa Husayn untuk kembali dan menjemputnya suatu saat nanti.

Peristiwa itulah yang menjadi titik balik pusaran badai kisah itu. Husayn dan Hasyim bergabung dengan ‘askari, prajurit kota. Sementara itu, Safira memutuskan untuk mengabdikan hidupnya pada kaum miskin hingga dia kemudian terkenal dengan julukan ’sang dewi’ atau ‘Sang Mawar Suci dari Sharbanu’. Di lain pihak, Qadrii yang sakit hati karena ditolak Safira pun mulai menyimpan dendam pada Safira dan keluarganya. Dorongan nafsu Qadrii lah yang kemudian mencelakakan Safira, bahkan membantai keluarganya. Semenjak itu, kondisi kampung itu jadi makin tak karuan.

Sementara itu, Husayn dan Hasyim mulai dikenal namanya sebagai pahlawan gagah berani. Julukan sebagai ‘Sang singan perkasa dari Kohina’ disematkan pada Husayn setelah dia berhasil membunuh Zoreth, pemimpin penyamun. Saya suka gaya sang pengarang saat mendeskripsikan pertempuran antara Husayn dan Zoreth. Kesannya seperti saat kita membaca karya silat ala Kho Ping Hoo. Sayangnya, pasukan Husayn kocar-kacir saat harus berhadapan dengan maqtuf Kharkhani, si Sahir, penyihir hitam yang dianggap sebagai yang dipertuan agung para penyamun di daerah itu. Husayn sendiri bahkan hampir saja terbunuh kalau saja tidak ditolong sosok misterius dan seorang tua baik hati yang tinggal di tengah hutan.

Setelah sembuh dari lukanya, Husayn pun kembali ke kampung halamannya. Tak disangka, sekarang tempat itu menjadi makin suram dan Qadrii telah menjadi kepala kampung. Karena tak menyukai sifat Qadrii yang tamak dan licik, Husayn pun menampik tawaran Qadrii untuk bekerja di tempatnya. Tapi, hati Husayn pun langsung remuk redam kala Qadrii memberitahukan bahwa Safira telah meninggal. Janji Husayn untuk menjemput Safira tak bisa terlaksana.

Entah karena pengaruh hatinya yang hancur, Suatu malam, Safira muncul dalam mimpi Husayn dan mengungkap apa yang terjadi pada dirinya. Karena mempercayai mimpinya itu, Husayn dengan gegabah berupaya membunuh Qadrii. Usaha Husayn tak berhasil. Dia hanya berhasil membunuh anak buah Qadrii. Akibat peristiwa itu, Husayn pun dikejar-kejar polisi. Nasib akhirnya mempertemukan Husayn dengan sang kepala polisi yang tak lain adalah Hasyim. Disinilah nilai persahabatan menjadi pertaruhan diantara kedua sahabat tersebut. Hasyim yang tersulut emosinya pun kelepasan tangan menancapkan pedangnya ke tubuh Husayn.

Sampai disitu, kisah sang pendongeng berakhir. Apakah Husayn benar-benar terbunuh ? saat pertanyaan itu keluar dari mulut seorang anak kecil, secara misterius, sang pendongeng mengatakan, “Tidak, cucuku Nabila…tentu saja tidak. Kecuali Allah memang menghendakinya demikian”

Itulah kisah indah yang terjalin di buku ini. Buku ini memang tak menawarkan dunia antah berantah layaknya Lord of The Ring. Alur dan plotnya cukup sederhana dan mudah dinikmati. Tokoh-tokohnya tak sesempurna pahlawan Hollywood karena menunjukkan kebaikan dan kejelekannya. Saya sendiri sebenarnya menyukai plot yang lebih rumit. Sesuai mental khas manusia Indonesia, kalau bisa diperumit kenapa harus dipermudah ??! Hehehhe

By : Farisol – ReadincCrew

Note : tulisan ini juga ada di Blog pribadi : Farisol.wordpress.com

 

 

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>