Rumah maya Readinc

Just another WordPress.com weblog

PETA READINC

Ditulis oleh readinc di/pada Juli 5, 2008

Buat teman-teman Readinc-ers,

Dari hasil masukan yang kami terima ternyata banyak juga yang agak kesulitan mencari dimana lokasi offline site, tempat penyewaan buku READINC. Nah, buat yang belum tau atau yang pengen tau, kita kasih bocorannya :D

Readinc ada di Jl Karangmenjangan No 72 Surabaya. Sebenarnya tempat READINC gampang dicari karena dekat dengan kampus B UNAIR. Cuma memang mesti perhatikan baik-baik karena dekat dengan belokan/perempatan. Untuk lebih jelasnya, silahkan lihat peta di bawah :

 

 

Semoga membantu..

With pleasure,

ReadincCrew

Ditulis dalam Woro-Woro | Leave a Comment »

Dragon Keeper

Ditulis oleh readinc di/pada Juli 2, 2008

Dragon Keeper

Cerita ini bermula dari kehidupan seorang budak yang tidak mengetahui namanya sendiri. Tuanya berlaku kejam terhadapnya, bukan hanya membiarkan diri dalam kebodohan tetapi juga memperlakukannya semena-mena. Tugasnya sehari-hari adalah mengurus ternak tuannya, yang membawanya mengenal naga. Tuannya adalah seorang pengurus naga bagi kaisar yang merupakan seorang pemalas yang serakah. Naga pada zaman ini seharusnya menjadi hewan yang dipercaya dapat membawa berkah bagi para penguasa, namun tahun demi tahun kepercayaan terdebut memudar dan para kaisar tidak lagi peduli akan naga.

Gadis budak itu akhirnya kabur dari istana dengan membawa Sang Naga dan Batu bertuahnya Dia menjadi buronan dan melarikan naga tersebut bersama Hun, tikus peliharaannya. Naga menjadi “mentor” yang berusaha mengeluarkan gadis ini dari kebodohan dan kesempitan pikirannya. Dalam perjalanan mereka bertemu Wang Cao, sahabat naga, yang seorang tabib.

Batu bertuah Sang Naga yang hilang, membawan mereka berkenalan dengan Liu Chen, kaisar muda yang baru dinobatkan. Ping (nama gadis Budak) dan Liu Chen bersahabat tapi persahabatan terpaksa diputuskan. Ping memilih untuk mengutamakan kepentingan Sang naga dan Batu.

Cerita ini disampaikan dengan gaya bertutur yang sederhana dan bahasa yang gamblang sehingga tidak sulit dicerna. Dibanding Eragon, cerita novel ini jauh lebih sederhana. Tokoh-tokoh utamanya baik yang protagonist maupun antagonis tidak banyak dan hubungannya pun tidak rumit. Alurnya pun tidak sulit didikuti. Gaya bertutur penulis Hampir mirip JK Rowling dalam buku Harry Potter nya. Walaupun demikian kesederhanaan itu justru memikat karena dengan kesederhanaan itu, Pengarang mampu menguraikan tahapan hubungan dan kecamuk emosi maupun mendeskripsikan situasi cerita secara jelas. Kekuatan dari cerita ini justru kesederhanaan tutur katanya yang mengentalkan imajinasi tanpa dekorasi kata yang terlalu berat.

Bacaan ringan yang sesuai untuk anak-anak, remaja, bahkan orang dewasa yang ingin membebaskan imajinasinya…

By

Retnaning Ratri (15518)

Ditulis dalam Apresiasi & Resensi | Leave a Comment »

Download komik naruto disini

Ditulis oleh readinc di/pada Juni 27, 2008

http://www.narutochaos.com/

Ditulis dalam Dunia Lain | Leave a Comment »

welcome…….member

Ditulis oleh readinc di/pada Juni 26, 2008


Bwt para Readers, Jangan lupa dateng ya…tanggal 13 Juli besok kita ada event bareng kru and member di Readinc..
ya kita kumpul2 aja sambil Rujakan dan ngomongin soal buku..
lewat forum ini, Readers bebas memberikan unek-uneknya ke para kru Readinc

Ditulis dalam Woro-Woro | Leave a Comment »

even lagi nih..

Ditulis oleh readinc di/pada Juni 26, 2008

Bengkel Penulisan Jakarta Book Fair 2008

Agenda GagasMedia-Bukuné yang satu ini memang nggak ada matinya deh! Yap, Bengkel Penulisan Remaja adalah satu wadah tentang penulisan yang sayang banget kalo kamu lewatin begitu aja.

Pada Jakarta Book Fair 2008 yang akan berlangsung sejak tanggal 28 Juni-06 Juli di Gelora Bung Karno, Istora Senayan, redaksi GagasMedia-Bukuné juga akan menggelar Bengkel Penulisan Remaja lho. Di Bengkel Penulisan ini, kamu-kamu bisa mengungkapkan segala masalah yang berkaitan sama dunia tulis-menulis. Misalnya saja, bagaimana cara menggali ide saat akan menulis, seperti apa struktur sebuah tulisan, atau bagaimana cara membuat karakter seorang tokoh.

Nggak itu aja sih, di Bengkel Penulisan Remaja ini pula, kamu yang punya naskah atau tulisan bisa sekalian dibawa. Pokoknya semua permasalahan tulisan kamu itu, bakal kita bongkar bareng di Jakarta Book Fair! Seru kan??? Makanya, buruan catat deh agendanya!

Bengkel Penulisan Remaja
Hari/tanggal: Kamis, 03 Juli 2008

Sesi I
Pukul: 16.00-18.00 WIB
Tema: Penulisan Fiksi & Nonfiksi untuk buku remaja
Pembicara:
- Christian Simamora (penulis Shit Happens-GagasMedia)
- Valiant Budi (penulis Joker-GagasMedia)
- Dewi Fita (penulis The Food Traveler’s Guide- Bukuné)
- Rizal Khadafi (penulis 28 Hari Mendapatkan Pacar- Bukuné)
Tempat: Stand GagasMedia-Bukuné
Moderator: Resita (redaksi GagasMedia)

Sesi II
Pukul: 18.30-21.00 WIB
Tema: Menembus Penerbit
Pembicara:
- Christian Simamora (penulis Shit Happens-GagasMedia)
- Valiant Budi (penulis Joker-GagasMedia)
- Dewi Fita (penulis The Food Traveler’s Guide- Bukuné)
- Rizal Khadafi (penulis 28 Hari Mendapatkan Pacar- Bukuné)
Tempat: Stand GagasMedia-Bukuné
Moderator: Resita (redaksi GagasMedia)

Ditulis dalam Dunia Lain | Leave a Comment »

info baru..

Ditulis oleh readinc di/pada Juni 26, 2008

Agenda Jakarta Book Fair 2008

Jakarta Book Fair 2008 is back! Yap, salah satu event perbukuan terbesar ini bakal digelar lagi di Istora Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta pada tanggal 28 Juni – 05 Juli 2008 mendatang.

Nah, berkaitan dengan Pesta Buku Jakarta ini, GagasMedia dan Bukuné nggak mau ketinggalan untuk ikut serta memeriahkan event tersebut. Sejumlah acara yang pastinya asyik dan seru, udah dipersiapkan oleh Redaksi GagasMedia dan Bukuné. Nggak percaya??? Liat aja agendanya di bawah ini!

Jumat, 04 Juli 2008

Pukul: 10.00-12.00 WIB
Agenda: Menulis Novel Romantis
Pembicara: Christian Simamora (Penulis novel Boylicious, Cokelat Stroberi, Shit Happens-GagasMedia)
Tempat: Stand GagasMedia-Bukuné
Moderator: Alit (Redaksi GagasMedia)

Pukul: 13.30-15.30 WIB
Agenda: Buku Kuliner
Pembicara: Dewi Fita (Penulis The Food Traveler’s-Bukuné) & Anisa Anindhika (Penulis Kencan Jakarta-GagasMedia)
Tempat: Stand GagasMedia-Bukuné
Moderator: Ninish (Redaksi GagasMedia)

Pukul: 16.00-18.00 WIB
Agenda: She Says/He Says
Pembicara: Dilla Ariestiani (Penulis Lagi-lagi Tentang Cowok-GagasMedia) & Rizal Khadafi (Penulis 28 Hari Mendapatkan Pacar-Bukuné)
Tempat: Stand GagasMedia-Bukuné
Moderator: Valiant Budi (Redaksi GagasMedia)

Pukul: 16.00-18.00 WIB
Agenda: Talkshow novel An Affair to Forget
Pembicara: Armaya Junior (Penulis An Affair to Forget-GagasMedia)
Tempat: Panggung Utama Jakarta Book Fair 2008
Moderator: Adit (Radio OZ)

Pukul: 18.30-20.30 WIB
Agenda: Talkshow novel The Maling of Kolor
Pembicara: Roy Saputra (Penulis The Maling of Kolor -Bukuné)
Tempat: Stand Bukuné
Moderator: Tata (Redaksi Bukuné)

Ditulis dalam Dunia Lain | Leave a Comment »

Readinc lagi cari nih buku…

Ditulis oleh readinc di/pada Juni 26, 2008

Ditulis dalam Woro-Woro | Leave a Comment »

BUku Baru…

Ditulis oleh readinc di/pada Juni 26, 2008

BUKU BARU GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA

26 Juni 2008

 

 

 

HE LOVES ME, HE LOVES ME NOT

 

Elcy Anastasia

 

Teenlit; GM 31008025; ISBN 978-979-22-3844-0; 13,5×20 cm; 176 hlm;

 

Rp27.000

 

 

Lala dan Alex sudah berteman sejak kecil. Tapi entah sejak kapan, mereka jadi selalu berantem dan saling cela. Mereka bahkan punya julukan satu sama lain: Lalat buat Lala dan Jelek buat Alex. Herannya mereka tetep bisa berteman tuh.

 

 

Sialnya, ortu mereka malah menganggap hubungan mereka “terlalu dekat dan bikin risi”. Maka rencana pertunangan pun disusun. Alex dan Lala tentu aja menolak mentah-mentah. Tapi niat ortu mereka sudah mantap dan nggak ada yang bisa mereka lakukan untuk membatalkan rencana itu.

 

 

Eh, masa sih nggak ada? Lala tiba-tiba punya ide cemerlang: Dia harus cari pacar! Kalo dia udah dapet pacar, ortunya nggak mungkin maksa dia tunangan sama Alex. Pucuk dicinta ulam tiba, Revan tau-tau ngirim bunga buat dia! Hmm… anak band, ganteng, kaya pula. Not bad, lah. Tapi kenapa si Jelek tau-tau jadi manis sikapnya? Gawat! Jangan-jangan… jangan-jangan dia MAU tunangan sama Lala? Aduuuuuh… pusiiinggg!

 

Ditulis dalam Apresiasi & Resensi | Leave a Comment »

BOOK LIFE STYLE

Ditulis oleh readinc di/pada Juni 26, 2008

Bangun citra lewat perpustakaan pribadi


Koleksi mereka beraneka ragam. Mulai dari buku manajemen hingga filsafat. Tersusun rapi di suatu tempat yang mereka namakan perpustakaan pribadi. Para kutu buku kini tidak lagi identik dengan wajah-wajah serius berkacamata tebal. Di mal-mal saat hari libur, bersama dengan keluarga, sejumlah eksekutif dengan kemeja trendi, kasual, dan potongan rambut spike sibuk mencermati buku-buku, memilih, dan membawanya pulang untuk menambah koleksi di rumah. Mengoleksi dan membaca buku menjadi satu keasyikan tersendiri buat kalangan eksekutif. Bahkan buku punya makna khusus bagi mereka. Tak heran koleksi tersebut disimpan bak barang berharga. Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan pribadi. Semua itu lantaran minat baca yang tinggi.


Bagi Richard Santosa, General Manager PT Astra International Tbk, yang juga peraih penghargaan The Best Investor Relation dari sebuah majalah asing dan lokal pada 2005, membaca adalah kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dalam kondisi apapun. “Karena dengan banyak membaca saya menjadi lebih enak berbicara dengan para investor maupun relasi kerja saya,” katanya. Richard merupakan salah satu contoh saja dari kalangan eksekutif yang ‘gila’ membaca meski kesibukannya seabrek. Bagi mereka aktivitas itu menjadi ringan lantaran sudah dinggap sebagai hobi.


Hobi membaca, menurut Presdir PT Nyonya Meneer Charles Saerang, banyak membantunya dalam menjalankan karir sebagai pimpinan di perusahaan jamu yang cukup besar di Indonesia itu. Selain bisa meningkatkan pengetahuan, dia merasa betul hobi tersebut membuatnya lebih percaya diri saat berhadapan dengan tokoh penting. “Agar saya tidak ketinggalan zaman, dan bisa mengimbangi pembicaraan mereka,” kata Charles yang ketika sarapan selalu menyempatkan membaca 10 surat kabar. Untuk memperbanyak koleksi bukunya, Charles mengaku menghabiskan dana hampir Rp100 juta per tahun.

Bagi bos Nyonya Meneer itu, berburu buku tidak cukup dilakukan di Tanah Air. Beberapa negara tetangga dan Eropa biasanya menjadi target pencarian eksekutif tersebut. “Meskipun harganya jauh lebih mahal, namun biasanya buku mereka lebih berkualitas, dan juga isinya lebih aplikatif.”

 

Untuk diwariskan

Lantaran hobinya itu, koleksi buku Charles sudah mencapai 20.000 buah yang tersimpan rapi di perpustakaan pribadinya. Buku-buku tersebut dikumpulkannya sejak masih kuliah di Business School Miami University, Oxford, Ohio, AS pada 1976. Karena kecintaannya pada buku, cucu Nyonya Meneer ini mengaku bisa menghabiskan satu buku dengan ketebalan 450 halaman dan berbahasa Inggris dalam satu hari.

Jenis buku yang disukai pria beranak dua ini adalah nonfiksi, dari mulai soal ekonomi, pemasaran, dan kisah sukses seseorang yang sering dilahapnya untuk menambah pengetahuan. “Saya kurang senang dengan buku yang fiction, karena biasanya boring dan tidak realistis,” tutur pria asal Semarang ini. Tak ada dalam benak Charles untuk melepas koleksi kesayangannya itu. Kalau toh perpustakaan pribadi tak mampu lagi menampung, dia berniat memuseumkan ribuan bukunya tersebut, atau mewariskannya kepada orang lain. “Saya berniat untuk mewariskan buku-buku ini kepada mahasiswa dan pegawai saya,” ujar eksekutif puncak yang selalu mengajak para mahasiswanya untuk mendiskusikan buku-buku yang dia beli.


Jika Charles hafal berapa dana yang dikeluarkan, David Ross, Presdir PT Fonterra Brands Indonesia, justru tidak mematok anggaran tertentu untuk membeli buku yang tersimpan di perpustakaan pribadinya. “Saya tidak pernah mematok budget untuk membeli buku. Biasanya, jika saya melihat dan suka dengan buku itu, maka akan langsung saya beli,” ujarnya. Selain menambah wawasan, Ross menganggap buku sebagai ‘obat penenang’ diri saat rutinitas membuatnya lelah. “Bagi saya, ini seperti penyegaran, saat kesibukan telah menyita konsentrasi dan keseharian saya.” Nama pengarang buku bukan hal utama bagi dosen mata kuliah kebijakan bisnis (business policy) di Universitas Diponegoro jurusan Administrasi Niaga ini. Bagi Ross, yang terpenting adalah isi dan bagaimana sisi aplikatif yang bisa diserap dari buku tersebut. Dia pun bercita-cita memiliki perpustakaan pribadi agar koleksi bukunya yang kini sudah mencapai ratusan tersimpan rapi di suatu tempat yang khusus. Sayangnya Ross tidak menjelaskan kapan hal itu akan diwujudkan.

Jika Charles tidak menyukai buku fiksi, Ross justru bersikap sebaliknya. Dia mengaku mencintai buku fiksi, selain misteri yang dianggapnya memiliki daya tarik tersendiri. Meskipun mengaku bukan kolektor buku, namun Ross mengaku selalu menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca semua jenis buku yang disukainya. Karena jadwal pekerjaannya yang padat, koleksi Ross bisa jadi tidak sebanyak eksekutif penggila buku lainnya. “Mungkin sekitar ratusan saja, dan itupun sampai saat ini belum saya kumpulkan secara khusus dalam sebuah perpustakaan pribadi.”

Yang jelas, para eksekutif tersebut sependapat bahwa waktu yang paling memungkinkan untuk membaca buku adalah pada akhir pekan, Minggu dan hari libur. Namun, untuk keseharian banyak yang memilih menjelang tidur malam atau setelah bangun pagi.


Bisa pula membaca saat berada di mobil sembari menuju tempat pertemuan.

Tak beda dengan Charles maupun Ross, Richard juga mengalokasikan dana khusus untuk membeli buku. Jumlahnya berkisar Rp500.000 hingga Rp1 juta per bulan. Tapi bisa berkurang juga kalau dalam satu bulan tidak banyak buku yang dibeli.

Para eksekutif sering memanfaatkan libur hari Sabtu dan Minggu untuk berburu buku. Perburuan di toko buku dilakukan bersama keluarga atau sendirian saat menunggu istri atau anak mereka berbelanja di mal. Ibnu Tadji H.N, Presdir PT Emerson Communications Consultant, misalnya, kerap bersibuk ria di toko buku sambil menunggu istri dan anaknya berbelanja. Selain itu, jika bepergian ke luar kota atau ke luar negeri, dia juga tidak lupa mencari toko buku dan memborong buku bacaan yang dianggap paling menarik untuk oleh-oleh buat sang istri tercinta dan tiga anaknya. Pasalnya, para kutu buku kerap menularkan hobinya membaca kepada segenap anggota keluarga di rumah, sehingga hubungan antarmereka pun lebih harmonis.

Bagi eksekutif, kini buku bukan hanya sebagai sebuah gudang ilmu, namun juga aset bagi masa depan mereka.

 

(Sumber : www.bisnis.com)

Ditulis dalam Dunia Lain | Leave a Comment »

sosok

Ditulis oleh readinc di/pada Juni 26, 2008


Seringkali orang menganggap sains dan sastra adalah dunia yang terpisah, bagai minyak dan air. Orang melihat sains sebagai bidang yang dingin, begitu mengagungkan fakta dan logika. Ada batasan dan aturan yang jelas dan kaku dalam sains. Sebaliknya, sastra dianggap sebagai bidang yang lebih mengedepankan imajinasi. Keliaran ide seorang sastrawan membuat sebuah karya sastra mengembara ke dunia antah berantah, penuh gelora, seringkali melintasi batas yang memang sudah tak jelas dan kerap kali tak tunduk pada logika umum yang berlaku.

 

Benarkah kedua dunia tersebut memang benar terpisah ? Orang mungkin mengenal karya-karya science fictions yang bisa mendamaikan kedua dunia tersebut, seperti karya-karya Michael Crichton. Jauh sebelum Michael Crichton, ada sosok yang juga mampu menggabungkan dunia sains dan sastra. Nama orang itu adalah H.G. Wells.


Siapa Wells?


Dia putra sepasang suami istri dari kelas pekerja. Sepertinya Wells ditakdirkan akan menjadi buruh rendahan juga seandainya saja ia tidak memenangkan beasiswa ke Normal School of Science – sekarang dikenal sebagai Imperial College di London.
Salah satu pendiri Normal School of Science adalah Thomas Huxley – kakek penulis Aldous Huxley dan biolog Julian Huxley. Kita mungkin kenal Thomas Huxley dari julukannya, ‘Bulldog Darwin’, karena ia merupakan salah seorang pendukung Darwin paling keras dan paling setia.


Selain seorang biolog, Huxley juga merupakan seseorang dengan prinsip-prinsip sosial yang cukup revolusioner pada zamannya. Ia mendorong emansipasi perempuan dan kulit berwarna untuk ikut belajar di perguruan tinggi. Normal School of Science menerima mahasiswi-mahasiswi perempuan, ketika perguruan-perguruan tinggi lain di zamannya sebagian besar masih menolak kehadiran perempuan. Wells sangat mengagumi Huxley sang mentor. Banyak pandangan Wells yang tampaknya diserapnya dari Huxley. Di perguruan tinggi itu, Wells mempelajari biologi dan lulus dengan nilai memuaskan. Ia sebenarnya hendak menjadi guru, namun karir mengajarnya itu tamat akibat ginjalnya cedera setelah ia tertendang oleh muridnya dalam pertandingan sepakbola. Dan sejak saat itulah karir menulis Wells dimulai.


Uniknya, Wells tidak lantas berhenti dari dunia sains. Malah latar belakang pendidikan sainsnya itulah yang menyebabkan ia mampu menghasilkan karya-karya sastra yang hebat.
Wells memang terkenal berkat karya-karyanya yang saat ini digolongkan sebagai ‘science fiction‘, seperti War of the Worlds, The Invisible Man, The First Man in the Moon, The Island of Doctor Moreau, dan lain sebagainya. Percaya atau tidak, karya yang dihasilkan Wells lebih dari sekedar sebuah karya sastra.

 

Tengoklah bagaimana War of the Worlds adalah sebuah peringatan bagi keangkuhan manusia. Betapa kecilnya manusia sebenarnya dibandingkan alam ini. Dan betapa hebatnya akhir yang diberikan Wells, tak seperti film-film Hollywood yang biasanya menyerahkan penyelamatan Bumi kepada segelintir orang Amerika – justru makhluk-makhluk kecil yang sering dianggap remehlah yang menghancurleburkan para penyerbu dari Mars.

 

 

The Invisible Man dianggap sebagai salah satu perwujudan pembahasan nilai-nilai nietszchian pertama di Inggris. Bahkan Wells adalah orang pertama di Inggris yang memberikan perhatian serius pada Nietszche!

Dalam The Sleeper Wakes, ia menggali apa yang mungkin terjadi ketika kapitalisme meraja sehingga justru mengarah pada totalitarianisme.

Wells tidak hanya menulis science-fiction. Ia juga menulis buku-buku daras biologi (gelar doktornya diperolehnya dalam bidang biologi). Ia juga seorang pengamat dan pemerhati sosial, dan sejumlah buku (termasuk novel) yang ditulisnya sesungguhnya bertema sosial, yang menyuarakan dukungannya terhadap orang-orang yang tersingkir dan keyakinan Wells akan sosialisme. (Wells bahkan pernah beranggapan bahwa dirinyalah satu-satunya sosialis sejati yang tersisa di dunia.). Perhatian Wells akan nasib rakyat ini membuatnya menjadi penghubung generasi antara Charles Dickens dan George Orwell. Beberapa novel Wells yang mengusung tema sosial adalah Ann Veronica (emansipasi perempuan, kebebasan perempuan untuk memilih); Kipps (perjalanan hidup seorang anak miskin, nyaris terasa otobiografis) ; Love and Mr Levisham; The New Machiavelli; dan lain sebagainya.


Wells juga produktif sekali menulis cerpen. Banyak di antara cerpennya yang benar-benar merupakan terobosan. Ada yang bertema religi, sains, sosial, dan sebagian di antaranya bahkan mengantisipasi lahirnya genre ‘magic-realism‘ .


Wells juga seperti seorang ‘peramal’, yang berkat ketajamannya mengamati sains dan perkembangan sosial dapat ‘meramalkan’ temuan-temuan manusia di masa depan, seperti pesawat, perjalanan ke Bulan, dan lain sebagainya. Ia juga berulang kali mengutarakan
visinya tentang kemungkinan pecahnya perang dunia di masa depan. Namun Wells dilanda kebingungan tersendiri. Ia percaya teknologi bisa menyelamatkan manusia, tapi pantaskah manusia diselamatkan? Ia hidup cukup lama untuk menyaksikan ‘ramalan-ramalan’ -nya menjadi kenyataan: mesin-mesin perang, pesawat-pesawat tempur, perang
besar-besaran
. Pemikiran-pemikiran Wells masih tetap relevan sampai sekarang.

 

Paparan panjang lebar ini sedikit banyak bisa memaparkan bukti bahwa dalam diri Wells, sastra, sains, dan bidang-bidang lain bukanlah hal yang perlu dipertentangkan atau dikotak-kotakkan dengan tajam. Semua bidang yang digeluti Wells justru membangunnya menjadi seseorang yang serbabisa, tajam, cerdas, dan berwawasan luas.


Hasil karyanya melimpah ruah. Dalam dua puluh tahun terakhir hidupnya saja, ada sekitar 40 buku dengan berbagai subjek yang dihasilkannya. Setidaknya ada 150 buku dan pamflet yang telah ditulisnya.

 

(dikumpulkan dari berbagai sumber)

Ditulis dalam Sosok | Leave a Comment »