
Bangun citra lewat perpustakaan pribadi
Koleksi mereka beraneka ragam. Mulai dari buku manajemen hingga filsafat. Tersusun rapi di suatu tempat yang mereka namakan perpustakaan pribadi. Para kutu buku kini tidak lagi identik dengan wajah-wajah serius berkacamata tebal. Di mal-mal saat hari libur, bersama dengan keluarga, sejumlah eksekutif dengan kemeja trendi, kasual, dan potongan rambut spike sibuk mencermati buku-buku, memilih, dan membawanya pulang untuk menambah koleksi di rumah. Mengoleksi dan membaca buku menjadi satu keasyikan tersendiri buat kalangan eksekutif. Bahkan buku punya makna khusus bagi mereka. Tak heran koleksi tersebut disimpan bak barang berharga. Di mana lagi kalau bukan di perpustakaan pribadi. Semua itu lantaran minat baca yang tinggi.
Bagi Richard Santosa, General Manager PT Astra International Tbk, yang juga peraih penghargaan The Best Investor Relation dari sebuah majalah asing dan lokal pada 2005, membaca adalah kebutuhan hidup yang harus dipenuhi dalam kondisi apapun. “Karena dengan banyak membaca saya menjadi lebih enak berbicara dengan para investor maupun relasi kerja saya,” katanya. Richard merupakan salah satu contoh saja dari kalangan eksekutif yang ‘gila’ membaca meski kesibukannya seabrek. Bagi mereka aktivitas itu menjadi ringan lantaran sudah dinggap sebagai hobi.
Hobi membaca, menurut Presdir PT Nyonya Meneer Charles Saerang, banyak membantunya dalam menjalankan karir sebagai pimpinan di perusahaan jamu yang cukup besar di Indonesia itu. Selain bisa meningkatkan pengetahuan, dia merasa betul hobi tersebut membuatnya lebih percaya diri saat berhadapan dengan tokoh penting. “Agar saya tidak ketinggalan zaman, dan bisa mengimbangi pembicaraan mereka,” kata Charles yang ketika sarapan selalu menyempatkan membaca 10 surat kabar. Untuk memperbanyak koleksi bukunya, Charles mengaku menghabiskan dana hampir Rp100 juta per tahun.
Bagi bos Nyonya Meneer itu, berburu buku tidak cukup dilakukan di Tanah Air. Beberapa negara tetangga dan Eropa biasanya menjadi target pencarian eksekutif tersebut. “Meskipun harganya jauh lebih mahal, namun biasanya buku mereka lebih berkualitas, dan juga isinya lebih aplikatif.”
Untuk diwariskan
Lantaran hobinya itu, koleksi buku Charles sudah mencapai 20.000 buah yang tersimpan rapi di perpustakaan pribadinya. Buku-buku tersebut dikumpulkannya sejak masih kuliah di Business School Miami University, Oxford, Ohio, AS pada 1976. Karena kecintaannya pada buku, cucu Nyonya Meneer ini mengaku bisa menghabiskan satu buku dengan ketebalan 450 halaman dan berbahasa Inggris dalam satu hari.
Jenis buku yang disukai pria beranak dua ini adalah nonfiksi, dari mulai soal ekonomi, pemasaran, dan kisah sukses seseorang yang sering dilahapnya untuk menambah pengetahuan. “Saya kurang senang dengan buku yang fiction, karena biasanya boring dan tidak realistis,” tutur pria asal Semarang ini. Tak ada dalam benak Charles untuk melepas koleksi kesayangannya itu. Kalau toh perpustakaan pribadi tak mampu lagi menampung, dia berniat memuseumkan ribuan bukunya tersebut, atau mewariskannya kepada orang lain. “Saya berniat untuk mewariskan buku-buku ini kepada mahasiswa dan pegawai saya,” ujar eksekutif puncak yang selalu mengajak para mahasiswanya untuk mendiskusikan buku-buku yang dia beli.
Jika Charles hafal berapa dana yang dikeluarkan, David Ross, Presdir PT Fonterra Brands Indonesia, justru tidak mematok anggaran tertentu untuk membeli buku yang tersimpan di perpustakaan pribadinya. “Saya tidak pernah mematok budget untuk membeli buku. Biasanya, jika saya melihat dan suka dengan buku itu, maka akan langsung saya beli,” ujarnya. Selain menambah wawasan, Ross menganggap buku sebagai ‘obat penenang’ diri saat rutinitas membuatnya lelah. “Bagi saya, ini seperti penyegaran, saat kesibukan telah menyita konsentrasi dan keseharian saya.” Nama pengarang buku bukan hal utama bagi dosen mata kuliah kebijakan bisnis (business policy) di Universitas Diponegoro jurusan Administrasi Niaga ini. Bagi Ross, yang terpenting adalah isi dan bagaimana sisi aplikatif yang bisa diserap dari buku tersebut. Dia pun bercita-cita memiliki perpustakaan pribadi agar koleksi bukunya yang kini sudah mencapai ratusan tersimpan rapi di suatu tempat yang khusus. Sayangnya Ross tidak menjelaskan kapan hal itu akan diwujudkan.
Jika Charles tidak menyukai buku fiksi, Ross justru bersikap sebaliknya. Dia mengaku mencintai buku fiksi, selain misteri yang dianggapnya memiliki daya tarik tersendiri. Meskipun mengaku bukan kolektor buku, namun Ross mengaku selalu menghabiskan waktu senggangnya dengan membaca semua jenis buku yang disukainya. Karena jadwal pekerjaannya yang padat, koleksi Ross bisa jadi tidak sebanyak eksekutif penggila buku lainnya. “Mungkin sekitar ratusan saja, dan itupun sampai saat ini belum saya kumpulkan secara khusus dalam sebuah perpustakaan pribadi.”
Yang jelas, para eksekutif tersebut sependapat bahwa waktu yang paling memungkinkan untuk membaca buku adalah pada akhir pekan, Minggu dan hari libur. Namun, untuk keseharian banyak yang memilih menjelang tidur malam atau setelah bangun pagi.
Bisa pula membaca saat berada di mobil sembari menuju tempat pertemuan.
Tak beda dengan Charles maupun Ross, Richard juga mengalokasikan dana khusus untuk membeli buku. Jumlahnya berkisar Rp500.000 hingga Rp1 juta per bulan. Tapi bisa berkurang juga kalau dalam satu bulan tidak banyak buku yang dibeli.
Para eksekutif sering memanfaatkan libur hari Sabtu dan Minggu untuk berburu buku. Perburuan di toko buku dilakukan bersama keluarga atau sendirian saat menunggu istri atau anak mereka berbelanja di mal. Ibnu Tadji H.N, Presdir PT Emerson Communications Consultant, misalnya, kerap bersibuk ria di toko buku sambil menunggu istri dan anaknya berbelanja. Selain itu, jika bepergian ke luar kota atau ke luar negeri, dia juga tidak lupa mencari toko buku dan memborong buku bacaan yang dianggap paling menarik untuk oleh-oleh buat sang istri tercinta dan tiga anaknya. Pasalnya, para kutu buku kerap menularkan hobinya membaca kepada segenap anggota keluarga di rumah, sehingga hubungan antarmereka pun lebih harmonis.
Bagi eksekutif, kini buku bukan hanya sebagai sebuah gudang ilmu, namun juga aset bagi masa depan mereka.
(Sumber : www.bisnis.com)